Assalamu`alaikum.
Welcome back with me guys! Anddd happy reading:*
Tonton video ini dulu, ya sist bro!
“Wahh cantik
ya, dia!” Ganteng banget ini mah!” Parahhhh bt, ko dia mulus banget mukanya :)”
ini cewek pinter banget ya!” Yaampun ko dia bisa ya dapetin itu!” dia kaya
banget ga sihhh!” anak organisasi banget ini anak, keknya!” mereka best couple
banget, njir!” Iri gue kok cowonya ganteng gitu sihh, perhatiaan bt.” Gue bisa
ngga ya kayak dia?” dia kok bkeren ya bisa keluar negeri?’dia kann kayaa, aku
enggak. Dia pinter, aku enggak. Dia rajin, aku suka rebahan. Dia glowing, aku
buluq. Dia suka barang branded, aku mah serba 35 an. Dia rajin sholat, aku gini
gini aja.
Oke, mungkin
kalian pernah memiliki sekelebat pikiran atau bayangan tentang seseorang di
instagram yang bikin kalian iri dan ingin menjadi dia saja. Bikin kalian enggak percaya diri, merasa
rendah diri, kurang motivasi, bahkan kurang bersyukur atas nikmat diri. Paling parah,
kalian sampai mengubah diri menjadi sosok “DIA” seperti di instastory akunnya.
Apa kalian
sadar atas apa yang kalian lakukan? Sudahkah ber-metakognisi?!
Nampaknya
BELUM.
Saya juga
pernah berada di posisi teman-teman. Bahkan merasa diri ini paling rendah,
paling hina, paling tidak berharga, paling gabut diantara yang lainnya--Hanya gara-gara
insta story dan feed instagram teman.
WKWK,
mungkin waktu itu saya tidak berpikir dua kali mengenai apa yang sebenarnya
terjadi pada si “DIA”, tidak sadar bahwa kehidupan “DIA” bukan hanya di insta
story nya. Mari berpikir matematis, kehidupan siang dan malam kita habiskan
dalam 24 jam. Sedangkan kehidupan di
instagram hanyalah 15 detik untuk video, 2 detik untuk foto, dan 30 menit untuk
siaran langsung (itupun HP kita jadi low bath). Lalu? Dengan kehidupan nyata
yang 24 jam dibandingkan 30 menit 17 detik di instagram dia membuat kamu tidak
menghargai diri sendiri?
KAMU DAN
SAYA SALAH BESAR. Kehidupan “DIA” di instagram hanyalah “SATU PERSEN KEHIDUPAN”
dia di dunia nyata. Kita engga paham 99 % hidupnya dibuat apa.
Soo, jangan
terlalu berlebihan lah menilai orang lewat instagram. Aku, kamu, dan dia
sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dia mungkin kekurangan
kamu. Begitupun sebaliknya.
Jujur,
selama ini saya terlalu fokus pada kekurangan dan mengabaikan kelebihan diri.
(kelebihan lu emang apa, Fid? Ewkwk).
Saya salah. Harusnya
saya kembangkan kekurangan dengan kelebihan saya. Bukannya meratapi kekurangan
dan terkecoh akan instastory “DIA”. If so, Don`t give up! Tetangga sebelah
memang hijau lahannya, apa salah kalau lahan kita full colour? Ehe. Semoga kita
sama-sama berhasil nantinya KAWANNN!
Segini aja, wassalamu`alaikum.
IG: fida_hm