Sabtu, 18 April 2020

Fix, Gue Jomblo Aja Sampe..

Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh.

Hello, babe! I'm back. Siang gini gw mau sharing tentang pengalaman gw selama menjadi jomblowis 20 tahun ini. Haha, klise yah. Dahlah. Gw bahas aja, siapa tahu manfaat kan ya.  Enjoyyyy tsaaayyy! 

Ok, berdasarkan observasi yang dilakukan oleh Sudarsono (2017), status tanpa pasangan atau jomblo,  dewasa ini menjadi status yang bisa dikatakan tidak begitu menyenangkan sering menjadi bahan ejekan sehingga mereka yang berstatus jomblo perlu berusaha keras untuk mendapatkan pasangan (b ajasih kalo gw هاها). 

Stereotipe jomblo yang sering gw denger selama ini bwanyak banget,  beberapa yang masih melekat: 1)"Eh, lu jomblo terus, gaada yang naksir yah?" [Uh sorry, emang gaada kaliya? Wkw]; 2)"Emang selama ini lu gapernah suka gitu sama orang?" [Lukira gw mumi yg gabaperan?], 3)" umur lu 20 tahun tapi masih jomblo?" [Santwe lah]. Yaa intinya ngejek, nyindir, nertawain kejombloan gw. Dah terbiasa sih, terlanjur resisten dan nyaman.

Menjadi jomblo itu pilihan lho. Bisa bebas. Menikmati kesendirian. Bahagia. Tidak tertekan. Menghindari kemaksiatan. Takkan mendapat penghianatan. anddd Tidak merusak hakikat sebuah percintaan.

Soo, yang masi galau gundah merana karena jomblo. Saran gw jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Belum tentu kalau kamu ambil jalan pacaran, then bahagia haha hihi, mending minta lamar sono maemunah.

Lanjut ke cerita gw ya.

Mm, gw udah mendoktrin diri gw buat ngjomblo sejak kecil sih. Karena apa? Gw takut sama ancaman abah gw misal gw kelihatan pacaran sama orang, terus ketemuan di jalan. Bayangin ajayah, pas gw umur 9 tahun (kelas 4 SD kalo gasalah), dikasih wejangan sama aba: "kalo pacaran, siap-siap betisnya dipotong kayak paha ayam, then gausah pulang kerumah". Intinya gitu, bhheh, takutlah gw. Anak 9 tahun dicekoki kata-kata begituan, auto kicep kicep sadis dong. Ahhah, of course ada alasan dong kenapa gw gadibolehin pacaran, mungkin ya untuk menghindari fitnah orang, pergaulan bebas, dan kemaksiatan. Bener ya ortu. Emang selalu bener si. Love mereka bt gw. 

Another reason gw memilih jomblo dan gapacaran banyak sih. Kalo yang diatas onoh, itu akar nya, serabut-serabut, batang, daun, bunga,dan buahnya, check it below! Kwkwk.

Pertama. Pacaran/komitmen/ragam bahasa sejenis ini jelas dilarang oleh Tuhan. uWu. Dah kek ustadzah gw. Namanya dilarang, ujung-ujungnya kita dosa kan ya ges ya? jangankan pacaran, dosa gw uda numpuk kek pasir-pasir di gurun woy! Hiks. Gw juga pernah denger, "Boleh melakukan kemaksiatan, asal jangan di alam semestanya Allah". Nancep di hati gw, berarti kita bener" ngga boleh pacaran lho ges, except, pacaran setelah nikah. Beda konten ya.

Kedua, bwanyak banget kisah romansa temen gw yang berujung sadessss. Ada yang dihianati. Ada yang ditinggal pas sayang-sayangnya. Ada yang ditinggal pas lagi butuh-butuhnya. Ada yang ditinggal karena nemu doi lain, uh dasar buaya. Bahkan, ada yang ditinggal tunangan. Yang ditinggal nikah? Ada jugaaa. Lengkap sudah. Walhasil, pengalaman temen-temen gw ini nih yang semakin memperkokoh dinding sel kejombloan gw. Azek. Ibarat tanaman nih, kalau terusterusan dipupuk nutrisi gapacaran, ya menjulang tinggi tanaman kejombloan ku ini. Huhuy, selain itu, gw trauma sama yang namanya "Perpisahan" gais, ada lah gausah gw jelasin eheh.

Ketiga, menurut gw pacaran itu mendahului atau bahkan melawan takdir. Setahu gw, yang namanya jodoh dan rezeki itu sudaa tertulis di Laul Mahfuz. Apapun yang terjadi pada diri kita udah ditentuin. Masalah hasil, tergantung, usaha kita kayak begimana. Pada akhirnya, Tetep Allah yang nentuin. Dah poko fokus usaha, tikung dia di sepertiga malam atau awal fajar. InsyaAllah dah, Dia tetep sama yang lain. Eh, becanda xixi. Sapa tahu jodoh lu sekelas (isi sendiri). Gw aamiin in.

Keempat. Gw gamau merusak fitrah cinta. Azyek. Cinta itu fitrah lahiriah wal batiniah. Bohong kalo gw gapernah mengalaminya, cuman gw pendem sih. Biarin aja ntar ada waktunya. Untuk sekarang, gw masih belajar mencintai diri sendiri, menerima kekurangan diri dan body, dan wajib memperbaiki diri. Iyalah, harus. Semoga gw dan pembaca yang suka halu ini dikasih jodoh terbaik sama Allah, terbaik untuk kita sendiri, terbaik untuk keluarga bangsa dan negara. Aamiin.

Kelima. Gw kan cewe yah. Pasti nanti jadi ummah kan? Misal, gw punya anak ntar, terus  mau ngasi wejangan ke anak gw untuk tidak pacaran sampai ada ikatan halal. Pastinya gw obrok-obrok anak gw untuk ini itu. Nah, kan selama ini gw ngejomblo sampai halal (READER TOLONG AAMIIN IN YA, BIAR GW KUAT IMAN, TEGUH HATI TIDAK PACARAN SAMPAI ADA IKATAN HALAL), bukankah itu menjadi perisai untuk menasehati anak" kita nanti? (Anak siapa fid, ehe).

Gw rasa udah cukup kerandoman gw sampe sini. Nikmat dan kebahagiaan tanaman jomblo gw buahnya belum bisa dipetik sekarang, hanya harum bunganya yang tercium. 

Teruntuk teman-teman yang terlanjur pacaran, putusin sekarang, pinang dia. Doi butuh kepastian bukan haluan Maemuddin!

Teruntuk teman-teman yang jomblo atau geng halu, selamat menikmati kesendirian. Jomblo bukan penyakit, jangan mempersulit, ayo buktikan bahwa Kita yang terbaik! 

Semoga kalian sehat-sehat saja dirumah, terhindar dari psikosomatis akibat jomblo menahunis.

That's all, k thx bye!

Wassalamu'alaikum.

Daftar pustaka:
Sudarsono, Sony Christian. 2017. Diskreditisasi dan resistensi jomblo yang terpresentasi dalam wacana meme humor. Seminar Tahunan Linguistik. 416-419.



Sabtu, 04 April 2020

Corona ada untuk diambil Pesan Cinta-Nya

~
Hallo corona
Hadirmu tak terduga
Datangmu untuk siapa dan untuk apa
Manusia bumi tak mengerti apa-apa
Seolah papa, haha
Bukannya manusia memang papa?
Benar adanya, manusia papa, karena tugas kami hanya menerima
Menerima dan mengambil pesan cinta-Nya
~
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarokatuh.

  Selamat hari ahad everyone! Saya kembali, memenuhi kegabutan, biar ga dikira 'kacang lupa kulitnya' sama si blogspot karena saking lamanya ganulis. Mau ngucapin terimakasih sama Ust. Rezha Rendy (penulis buku Pesan Cinta-Nya) karena judul bukunya menginspirasi Saya untuk mengkaji lebih dalam pesan cinta-Nya akan kehadiran si gumush corona, eh-

  Jujur, ini pertama kali Saya dan para reader mungkin yah ?! menghadapi yang namanya  isolasi, berdiam diri, work from homie, ea. Literally ga kemana-mana dari rumah. Kelakuan dirumah yagitu-gitu aja, baca buku (hasil pinjem sih, hahah), nugas, kuliah online, nyuci, nyapu, masak, dengerin podcast (TED), buka" IG, youtube, nonton tv, mandi, makan, rebahan, REPEAT [kaya judul lagu nih hihih]. Bahkan konsul ke dosen aja lewat WA, kerkel lewat WA, tatap muka-praktikum pake platform BBB/Zoom/Google meet. Serasa gerak cuma dari dapur, KM, kasur, depan TV, itu doang.

  Biasanya nih, kalo buka WA IG Utube, banyak banget temen-temen suka posting cara pencegahan virus, penularan virus, dampak virus corona, etc. Terimakasih semuaaaaahhhh, postingan qelean bermanfaat sekali untuk Saya, meskipun beberapa ada yang hoax(ininih perlu dikasi edukasi bersosial media, including me),  ehe.

    Karena judul tulisan Saya udah gitu, Saya mulai dari sisi ilmu pengetahuan ya. Orang-orang yang awalnya nggapaham tentang apa itu virus, komponen virus, bagaimana cara mencegah penyebaran virus,  cara agar terhindar dari virus, cara naikin imun n blaablah, akhirnya  semua tahu. Bahkan istilah-istilah dan singkatan-singkatan yang berkaitan dengan corona virus mungkin udah pada tahu semua, misalnya  pandemi, ODP, PDP, suspect, positive, negative, etc. Poin plus wabah ini menjadikan orang-orang paham virus dalam waktu singkat. Sadar atau tidak, mencari tahu/googling tentang dunia pervirusan merupakan salah satu jalan mencari ilmu. Bukankah mencari ilmu itu salah satu perintah-Nya? 

Lanjut

  Healthy side. Ehe, Saya bukan dari keluarga tenaga medis, pola hidup juga tidak terlalu sehat. Sebagai warga pendidikan biologi, sedikit banyak Saya paham bagaimana cara hidup sehat, cara menjaga diri agar tidak terpapar virus. Tapi saya jarang mengamalkan kepahaman itu, seringkali mengabaikan. Misalnya jarang cuci tangan tiap habis/mau  pegang sesuatu, salah satu penganut " Makan aja, belum lima menit jatoh", olahraga cuma sekali seminggu (itupun kalo GAmager), sangat suka makanan instan. Astagfirullah sekali kan pola hidup saya? Alhamdulillahnya, kebiasaan buruk saya sedikit berubah karena adanya corona. Jujur saya parno sama si Corona. Sekarang jadi sering cuci tangan, ngurangi makanan instan, banyakin makan sayuran, minum jahe anget( Kalo aku sih sak jahenya tak makan :D), sering gerakin badan, dannnn nambah waktu rebahan wkkw. Kalian bisa ngelakuin banyak hal untuk menjaga kesehatan, bisa kalian akses lewat ig dr. Zaidul Akbar atau lewat jurnal (bisa kalian akses sendiri di goog.scholar / goog. Cendekia)

 Ok, sekarang tentang lingkungan. Bumi manusia mungkin berbahagia sekarang, dikasi waktu berbenah oleh Tuhan. Polusi udara yang mengotori awan, kini sudah berkurang. Salah satunya di Jakarta si kota metropolitan, Saya tahu keadaan ini lewat Whatsapp story teman, langitnya udah bagus menawan. Satu lagi, sampah plastik berkurang, Saya ambil contoh di tempat wisata dan pemandangan. Penutupan tempat-tempat tersebut, auto mengurangi sampah bukan? 

  Social. Social distancing, eh sekarang physical distancing. Awalnya diperintah menghindari kerumunan, eh sekarang diperintah untuk tidak berpegangan satu sama lain (layaknya Kamu dan Dia yang ga berperasaan atas diriku seorang). Apasih wkkw. Kehadiran corona, mengembalikan adab bersosial yang baik dan sopan. Adat nenek moyang saat bertemu teman, guru, saudara, dan ° mantan° (eh) untuk bersalaman khas Indonesia mulai diterapkan. Kontak antar laki-laki dan perempuan, khususnya yang belum halal mulai berkurang, woyajelas ini mengurangi kemaksiatan. Anjuran untuk #dirumahsaja menuntut orang-orang tertentu beraktivitas dirumah. Aktivitas dirumah akan menghidupan kembali rumah-rumah yang dulunya jauh dari kedamaian, keluargaa yang dulunya bersinggungan kini maaf-maafan, anak yang merasa kurang kasih sayang kini mulai diperhatikan. Teruntuk yang tidak bisa menciptakan pertemuan, khususnya yang berada di perantauan, jangan pulang, rindu memang tak berkesudahan, mungkin ini jalan Tuhan untuk Skype-an.

  Tentang uang dan perekonomian. Curse rupiah ke dollar  meningkat, per Dollar US berkisar Rp 17.000,- an. Libur sekolah dan kuliah, pembatasan akses  ekspor impor, ditutupnya lokasi wisata berimbas pada tenaga kerja yang meraup keuntungan lewat jalan-jalan tersebut. Sebut saja OJOL, pedagang kecil-kecilan di sekolah, penjual asongan-koran, dan lain-lain. Orang-orang tersebut makan dengan penghasilan harian. In maduranese, "Ngarkar, e colpek setiah kiyah", artinya Nyari uang untuk dimakan sekarang juga. Ngga bisa bayangin kalo pandemi ini berkelanjutan.  Allah rahman.~~~~

Dahlah, segitu aja tulisan Saya. Semoga yang baca tulisan, tergerak hatinya mengikuti  anjuran pemerintah nan ulama', untuk aktivitas #dirumah saja. Kalau terpaksa keluar dan gabisa diwakilkan, silahkan, tapi ikuti syarat dan anjuran.
~
Tuhan,
Jika corona, Engkau hadirkan untuk menuntas kesombongan, tolong kami untuk segera sadar.
Bulan suci kami akan datang, tarawih tadarusan kami rindukan, tolong kami, corona habiskan.
Stay safe, stay healthy, stay at home everyone!

Wassalamu'alaikumwarahmatullah.

Selasa, 03 September 2019

SATU PERSEN KEHIDUPAN DI INSTAGRAM



Assalamu`alaikum. Welcome back with me guys! Anddd happy reading:*

Tonton video ini dulu, ya sist bro!
 

“Wahh cantik ya, dia!” Ganteng banget ini mah!” Parahhhh bt, ko dia mulus banget mukanya :)” ini cewek pinter banget ya!” Yaampun ko dia bisa ya dapetin itu!” dia kaya banget ga sihhh!” anak organisasi banget ini anak, keknya!” mereka best couple banget, njir!” Iri gue kok cowonya ganteng gitu sihh, perhatiaan bt.” Gue bisa ngga ya kayak dia?” dia kok bkeren ya bisa keluar negeri?’dia kann kayaa, aku enggak. Dia pinter, aku enggak. Dia rajin, aku suka rebahan. Dia glowing, aku buluq. Dia suka barang branded, aku mah serba 35 an. Dia rajin sholat, aku gini gini aja.

Oke, mungkin kalian pernah memiliki sekelebat pikiran atau bayangan tentang seseorang di instagram yang bikin kalian iri dan ingin menjadi dia saja. Bikin kalian enggak percaya diri, merasa rendah diri, kurang motivasi, bahkan kurang bersyukur atas nikmat diri. Paling parah, kalian sampai mengubah diri menjadi sosok “DIA” seperti di instastory akunnya.

Apa kalian sadar atas apa yang kalian lakukan? Sudahkah ber-metakognisi?!

Nampaknya BELUM.

 Saya juga pernah berada di posisi teman-teman. Bahkan merasa diri ini paling rendah, paling hina, paling tidak berharga, paling gabut diantara yang lainnya--Hanya gara-gara insta story dan feed instagram teman.

WKWK, mungkin waktu itu saya tidak berpikir dua kali mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada si “DIA”, tidak sadar bahwa kehidupan “DIA” bukan hanya di insta story nya. Mari berpikir matematis, kehidupan siang dan malam kita habiskan dalam 24 jam.  Sedangkan kehidupan di instagram hanyalah 15 detik untuk video, 2 detik untuk foto, dan 30 menit untuk siaran langsung (itupun HP kita jadi low bath). Lalu? Dengan kehidupan nyata yang 24 jam dibandingkan 30 menit 17 detik di instagram dia membuat kamu tidak menghargai diri sendiri?

KAMU DAN SAYA SALAH BESAR. Kehidupan “DIA” di instagram hanyalah “SATU PERSEN KEHIDUPAN” dia di dunia nyata. Kita engga paham 99 %  hidupnya dibuat apa. 

Soo, jangan terlalu berlebihan lah menilai orang lewat instagram. Aku, kamu, dan dia sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dia mungkin kekurangan kamu. Begitupun sebaliknya.
Jujur, selama ini saya terlalu fokus pada kekurangan dan mengabaikan kelebihan diri. (kelebihan lu emang apa, Fid? Ewkwk).

Saya salah. Harusnya saya kembangkan kekurangan dengan  kelebihan saya. Bukannya meratapi kekurangan dan terkecoh akan instastory “DIA”. If so, Don`t give up! Tetangga sebelah memang hijau lahannya, apa salah kalau lahan kita full colour? Ehe. Semoga kita sama-sama berhasil nantinya KAWANNN!

Segini aja, wassalamu`alaikum.

IG: fida_hm

Senin, 26 Agustus 2019

KULIAH sekalian CARI JODOH


Pendidikan vs romansa. It`s not good, Babyy! Oke. Mungkin kalian engga setuju dengan pernyataan w. Mungkin kalian punya perspektif lain yang bertentangan dengan w. Entahlah, terserah kalian. Kita punya kemerdekaan berpikir dan berekspektasi sendiri.
Kita mulaiiiiii.........

W pikir, W di sekolahin Ibuk Abah ya untuk memperluas IPTEK N Ilmu agama. 100% ini pikiran gue pas SD, SMP, till MA (karena w alumni Madrasah Aliyah ahah). Pas masuk kuliah, wahhhhh!!! 100% itu turun drastis seiring dengan berkembangnya hormon dan pembelahan sel menuju kedewasaan. Tujuan mengenyam pendidikan tinggi serta mendengarkan beragam ceramah di pengajian, bukan lagi (eh ENGGA MURNI LAGI) untuk memperluas ilmu agama dan pengetahuan. Uh stop bacod! 

Katakanlah YOU and I mulai tertarik ingin berpasangan, berpacaran (butt, selama hidup gapernah ngalamin.. ntar aja w langsung nikah), bahkan pikiranku ki wis kate rabi. ++NIKAH ITU ENAK(KATA TEMEN WOEY)++ . HADEH

LANJUTT..

DETIK ini.. kalian belajar di kelas.. melihat dia.. membayangkan dia..menstalker IG dia..atau mungkin sudah membuat janji untuk bertemu..saling sapa.. tersenyum karena diajak telfonan ntar malem..sama dia.. orang yang kalian puja.. yang sering tersebut dalam iringan do`a.. begitu pikiran kalian...sampe engga sadar bolpen kalian jatuh// ASU!
Tapi kalian engga paham satu hal, kalian engga fokus pembicaraan dosen. Kalian mengabaikan beliau. Fix, kalian mengabaikan ilmu. Ilmu yang akan dibawa untuk bekal masa depan. Ilmu yang akan kalian sampaikan pada anak cucu begitupun penerusnya. Ilmu yang Ibuk & Abah kalian titipkan lewat sangu dan kiriman bulanan. Tolonglahhh.. amanah. Setidaknya jumlah beras dan asupan yang kalian makan di kos sama persis dengan jumlah huruf di catatan kuliah.

{X}MANA yang katanya ingin berpendidikan tinggi? meraih cita”? ingin mencerdaskan bangsa? (Atau sekedar) memerdekakan ekspektasi? Mana yang katanya mau mewujudkan a million dreams? Enyahhhh sudah
Fokus kalian mencari ilmu buyar, karena satu hal yang begitu di agungkan—yaitu CALON PASANGAN.

Ilmu dan romansa, engga bisa dijadikan pepatah “Menyelam sambil minum air”. Enggak bisaa... ilmu yang berkah, insyaAllah bisa didapat melalui belajar yang sungguh-sungguh. TANPA SELINGAN ROMANSA (entah pacaran, etc). SUDA CUKUP. Mari mulai buka kembali Dream Book kalian, bersikaplah Khauf wa Raja` insyaAllah tercapai. Mari  fokus, belajar yang rajin, giat organisasi, jangan mikir jodoh terus, dan mulai pantaskan diri–masalah jodoh Allah kasih kok pada waktu yang tepatJ. Gampang. DAN TOLONG HILANGKAN SEBERSIT PIKIRAN “ Ah, aku kuliah sambil nyari jodoh”. Tolong banget! W cumannnnn...

TAKUT ILMU YANG SUSAH PAYAH KITA DAPET MALAH ENGGA BERKAH.

MARI SAMA-SAMA UBAH HALUAN. AKU GINI-GINI JUGA BANYAK SALAH DAN AIB. ALHAMDULILLAHNYA DITUTUPIN SAMA ALLAH. EHE.

Thanks for reading dis Ewh mindset. Kalau gak sepemikiran ya no problem. Karena syaraf otak kita juga beda, darah kita beda. AKU-AKU, KAMU-KAMU berlaku kok. Aku darah merah kamu darah biru.
Stop, wassalamu`alaikum;)

Selasa, 13 Maret 2018

Guru killer lebih baik!!!

                                                            Guru killer lebih baik!!

Okay, Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...
Aloha, untuk para readers, semoga opini saya bermanfaat untuk kita semua. Ohiya, opini ini muncul setelah membaca berita di liputan6.com yang berjudul "Siswa Pembunuh Guru Divonis 6 Tahun Penjara". Uhhhh, merinding dehh baca itu. Langsung aja yaaaa, yuk kita baca isi hatiku dan pikiranku terkait masalah tersebut dengan judul yang udah terpampang nyata diatas sana. Ehehehehe. Sebelumnya, kalian wajib baca berita tersebut yaa, biar nyambung sama opiniku.
Begitu miris mendengar seorang guru (yang katanya digugu dan ditiru) malah dibunuh siswanya yang masih dibawah umur. Sangat tidak pantas jikalau seorang siswa yang hanya diberi tugas enteng malah membunuh gurunya. Kisah anak tersebut sangat bertolak belakang dengan kisah saya sewaktu masih di SD dan SMP. Dimana waktu itu, jika diberi tugas kemudian tidak mengumpulkan pada hari pengumpulan, akibatnya saya akan mendapat cubitan dan jeweran. Respon saya ya biasa saja, tidak sampai melapor ataupun melawan bahkan membunuh, karena saya sadar diri bahwa dalang dibalik penerimaan cubitan ialah perilaku saya sendiri.
Dewasa ini, etika para siswa semakin menurun ditengah canggihnya peradaban. Siapa yang salah? Semua orang kebingungan menjawab siapa yang salah. Negara kita tidak butuh saling menyalahkan. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran. Kesadaran untuk membentuk etika siswa yang lebih baik.
Orang yang pantas merubahnya ialah seorang guru. Seseorang yang menjadi suri teladan para siswanya. Sosok panutan para siswanya. Seorang yang berwibawa. Wibawa!? Pada kenyataannya, guru yang dianggap berwibawa oleh para siswa ialah guru berinisial guru killer. Dalam tanda kutip tidak mematikan seperti bisa ular ya para reader. Maksud saya, guru killer namun mengasyikkan. Ituloh Guru yang suka bikin detak jantung kita seirama dengan suara gesekan sepatu dan lantai. Ehehehe, becanda.
Keterkaitan guru killer dengan etika siswa ialah jika seorang guru memiliki tampak atau wibawa yang cenderung killer, tentu siswa-siswanya sadar diri untuk menghormati, patuh, tidak berani melawan, bahkan mungkin membunuh ketika diberi tugas. Maka dari itu, inisial guru killer ini lebih baik diterapkan oleh semua guru ataupun calon guru biologi seperti saya. Agar kenapa? Agar siswa siswi atau murid kalian menghormati kalian sebagai gurunya. Serta, wibawa kalian tidak diinjak-injak seperti kasus di Sampang, Madura. Semoga kasus ini tidak terjadi lagi di masa mendatang. Semoga saran saya juga bermanfaat untuk kalian para guru yang terhormat dan teman-teman calon guru.
Sekian dari saya. Terimakasih sudah membaca atau bahkan hanya mengunjungi. Jika kalian satu pemikiran dengan saya, bagus deh. Jika tidak yaaa, no problem. Yang kontra, kalian bisa comment juga dibawah. Oke? Bhabahai...
Wassalamu'alaikum Waeohmatullahi Wabarokatuh...